Kalau Bukan Kita Siapa Lagi ? Stop Perpecahan dan Kekerasan di Media Sosial !

Ungkapan yang mengatakan “Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?Pasti sudah sering lalu-lalang di telinga,  Apa lagi dalam situasi yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Nah, Dewasa ini, suatu tindakan harus mulai dilakukan untuk membendung perpecahan dan kekerasan di Medsos (media sosial).

Di era digitalisasi,  perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melaju dengan  pesat di segala bidang termasuk media sosial, hal ini ditandai juga dengan meningkatnya pengguna media sosial.  Dilansir dari katadata.co.id pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta orang atau 56% dari total populasi pada Januari 2019, ini bukti bahwa eksistensi media sosial sangat berpengaruh bagi kehidupan kita.

Dengan adanya kemudahan untuk mengakses informasi dan berkomunikasi lewat medsos, orang-orang memanfaatkannya sebagai sarana bisnis, pembelajaran, pengembangan  kreatifitas dan hal positif lainnya. Hal itu tentu baik bukan? Tetapi sayangnya, tak sedikit pula orang-orang yang menyalahgunakan media sosial untuk kepentingan jahat. Memang secara akal sehat, pasti banyak orang tidak mengingini terjadinya perpecahan dan kekerasan, namun, kadang ada saja orang yang bertindak diluar akal sehat.

Salah satu bentuk penyalahgunaan media sosial yang menjadi ancaman di negera +62 saat ini, yaitu menjamurmnya konten-konten berbau perpecahan dan kekerasan, di instagram contohnya, Narasi provokasi dan ujaran kebencian berhamburan di medsos yang penggunannya didominasi anak muda ini. Semuanya di posting dalam bentuk meme bahkan video yang sengaja dibuat semenarik mungkin agar dilirik oleh warganet untuk tujuan buruk, kolom komentar pun tak luput jadi sarang kata-kata kasar yang membuat orang lain merasa terintimidasi.

Nah, Sebagai generasi penerus bangsa, generasi muda seharusnya menggunakan media sosial dengan bijak, dan wajib dimulai dari diri kita sendiri. Karena kalau bukan kita siapa lagi? Tunjukkan bahwa kita anti dengan narasi-narasi yang mengandung kekerasan dan perpecahan dengan menggunakan media sosial ke hal-hal yang positif.

Berikut ini beberapa tips singkat bagi kamu yang ingin menjadi contoh yang baik dalam menggunakan media sosial:

  1. Hindari dan abaikan konten atau komentar yang mengandung perpecahan dan kekerasan.

Jangan kita terpancing atau mengiyakan konten-konten yang mengarah ke perpecahan dan kekerasan jika kita dapati hal tersebut laporkan konten tersebut. Lapornya ke mana?  Sekarang di setiap media sosial ada fitur untuk melaporkan hal-hal yang berbau negatif salah satunya dengan memblokir konten tersebut.

  • Sering-seringlah membuat konten yang positif.

Kita bisa mengambil kutipan-kutipan positif dari kitab suci atau tokoh-tokoh inspiratif yang bisa memotivasi kita dan orang lain, bahkan lebih baik kita memasukkan konten-konten keseharian kita dari pada sibuk mengurusi komentar atau konten yang mengandung perpecahan dan kekerasan

  • Pakailah media sosial sebagai sarana yang menguntungkan.

Dari pada menyebarkan kebencian, mending gunakan media sosial sebagai ladang bisnis positif.

Intinya, untuk menghindari dan mencegah tindakan kekerasan dan perpecahan di media sosial harus dimulai dari diri kita sendiri atau dengan kata lain mulailah dari lingkungan yang kecil. Jika kita mengatakan bahwa kita adalah smartnetizen seharusnya kita juga harus smart dalam menggunakan smartphone kita dalam berkomunikasi khususnya di media sosial. Jadilah pengguna media sosial yang bijak.

STOP KEKERASAN DAN PERPECAHAN DI MEDIA SOSIAL.

Penulis: Bryan Y. Korua

Editor : Vebriana D. Langkai

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *