Cegah Kecemasan Berlebih dengan Melawan Hoaks

Di tengah pandemi ini nampaknya kita tidak hanya sedang berperang melawan virus Covid-19, tetapi juga serangan virus hoaks yang tidak kalah berbahayanya dengan virus pandemi itu sendiri. Bahaya virus hoaks ini tidak main-main, satu saja informasi tidak benar yang menyebar dan mempengaruhi masyarakat dapat membuat penanganan virus itu sendiri menjadi lebih sulit.
Kurangnya pemahaman yang baik terhadap Covid-19 juga dapat membuat masyarakat lebih mudah menerima informasi yang berasal dari mana saja. Tanpa perlu memastikan asal sumbernya, yang penting informasi tersebut diamini oleh banyak orang disekitarnya.
Anggapan bahwa seseorang hanya dapat mempercayai sesuatu yang memang ingin ia percayai sepertinya benar berlaku disini.
Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) sendiri mencatat terdapat 544 isu, hoaks, atau teori konspirasi mengenai Covid-19 sejak akhir Januari di Indonesia.
Temuan tersebut terlihat jelas dengan banyaknya informasi bohong yang beredar di media sosial, mulai dari konspirasi ada atau tidaknya virus tersebut sampai dengan cara pengobatannya.
Salah satu yang sempat ramai di jagat dunia maya, mengenai isu adanya tuduhan terhadap rumah sakit yang memanipulasi diagnosis terhadap pasien yang tidak positif Covid-19 menjadi positif demi mengejar insentif yang melimpah.
Hal ini disampaikan melalui beberapa cuitan pengguna Twitter yang sempat mendapatkan banyak sorotan. di antaranya mengatakan bahwa salah satu RS di Surabaya, merekayasa status positif ayahnya, agar RS tersebut mendapatkan uang sebesar Rp.200-350 juta. Ia pun menambahkan bahwa pemerintah telah menargetkan 70 juta warga meninggal dunia dalam pandemi ini.
Pernyataan tidak berdasar yang dapat memicu kekhawatiran masyarakat ini pun ditanggapi oleh Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI). PERSI mengirimkan pesan langsung kepada yang bersangkutan, dan mendapatkan bahwa tuduhan yang dilayangkan tersebut ternyata tidak berasal dari pengalaman orang tersebut.
Melalui keterangan tertulis, Humas PERSI Anjari Umarjianto mengatakan bahwa RS yang dituduhkan memanipulasi pasien Covid-19 dengan tujuan uang bantuan ratusan juta ternyata hanya didasarkan dari ‘hasil teman ayah saya yang katanya orang dinkes’.
PERSI pun menanggapi tundingan lain terhadap RS yang memanipulasi diagnosis, dengan menunjukkan hasil pemeriksaan laboratorium terkait pasien yang bersangkutan. Dan hasilnya memang dinyatakan positif.
Akhirnya, yang bersangkutan pun menyatakan permohonan maaf secara tertulis atas cuitannya dan menyatakan bahwa informasi yang ia sampaikan tidak benar.
Sayangnya, informasi ini terlanjur membuat masyarakat cemas. Dapat dilihat di beberapa daerah terdapat banyak kasus pengambilan paksa jenazah seorang pasien. Hal ini diduga berkaitan dengan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap penanganan yang dilakukan tenaga medis. Berkat berbagai macam informasi tidak pasti yang tersebar secara masif di media sosial.
Padahal, dampak dari kejadian tersebut sangat beresiko menimbulkan kluster-kluster baru. Disini kita dapat melihat bahwa peranan virus hoaks ini ternyata dapat membantu masifnya penularan virus Covid-19 itu sendiri.
Pola ini sama seperti sebaran virus radikalisme, jika ketakutan sering dijadikan cara untuk mempengaruhi mental masyarakat. Maka, salah satu tujuan dari terorisme itu sendiri pun mudah tercapai.
Caranya dengan menjadikan isu yang membuat cemas masyarakat untuk membangun ketidakpercayaan berdasarkan hal yang tidak berdasar. Dengan menyadari polanya, kita perlu menjadikan hal ini untuk membentuk kebiasaan baru.
Jika hoaks memang sulit untuk dikendalikan keberadaannya di dunia maya, yang bisa kita lakukan adalah mempersenjatai diri sendiri. Sadar akan pentingnya berpikir kritis dan terbiasa untuk memilih informasi berdasarkan sumber yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Selalu pertanyakan informasi yang datangnya baru dari satu atau dua orang pengalaman di media sosial yang masih belum diketahui kebenarannya. Cegah pula penyebaran informasi tidak pasti yang memicu kekhawatiran.
Kita perlu beradaptasi dengan kebiasaan baru di kenormalan baru ini. Selain selalu menerapkan protokol kesehatan, bagaimana kalau kita terapkan pula kebiasaan melawan hoaks?
Karena dengan kebiasaan melawan hoaks, kita dapat membantu mencegah kecemasan berlebih di tengah pandemi ini.

Penulis: Bunga Revina Palit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *