Berdamai dengan Diri Sendiri di Kala Pandemi

Selama masa pandemi berlangsung, perasaan cemas jadi lebih mudah menghampiri. Tren produktivitas tinggi pun jadi cukup populer di media sosial, kita jadi merasa bahwa melakukan hal-hal yang sibuk adalah cara terbaik untuk menghabiskan waktu. Tanpa sadar kita memaksakan diri untuk selalu produktif walau rasa cemas itu selalu mengganggu.

Sebenarnya, tidak ada yang salah untuk melakukan berbagai kegiatan di tengah pandemi ini sesuai dengan pilihan masing-masing. Tapi, seringkali kita lupa bahwa sebagai manusia biasa, kita tidak harus selalu untuk memaksakan diri. Ada hal yang lebih penting untuk kita usahakan, yaitu kesehatan mental.

Andrea Sadler, seorang ahli terapi dan psikoterapi di Toronto, menyatakan bahwa selama karantina berlangsung kita dikondisikan untuk percaya bahwa menjadi produktif dan menjalani hari-hari dengan cara yang tervalidasi oleh banyak orang adalah cara yang benar. Ia menambahkan, ada suatu penilaian yang menarik, bahwa semakin produktif seseorang melakukan aktivitas maka mereka akan dianggap melakukan produktivitas dengan benar, sedangkan semakin sedikit produktivitas yang dilakukan seseorang maka dia dianggap salah.

Nampaknya, tren produktivitas ini dapat berkaitan dengan rasa cemas yang kita rasakan di kala pandemi ini. Di tengah keadaan yang memang sedang tidak pasti, kita jadi merasa harus melakukan segala sesuatu yang produktif. Ketika kita gagal mengendalikan diri untuk melakukan kegiatan produktif tersebut, rasa cemas atau anxiety pun menghampiri.

Jika terjadi secara terus-menerus, hal ini bahkan dapat mengganggu kualitas tidur atau sekedar membuat kita menghabiskan waktu lebih banyak untuk overthinking. Alhasil, tubuh menjadi lebih mudah lelah selama hanya dirumah saja.

Lalu, bagaimana kita dapat memanfaatkan waktu dengan baik kalau pikiran dan mental kita saja sedang tidak baik-baik saja?

Untuk dapat menemukan solusi dari kecemasan yang kerap mengganggu selama karantina ini, pertama-pertama kita perlu menerima bahwa untuk merasakan hal tersebut adalah hal yang wajar. Kecemasan menandakan bahwa mental kita sedang tidak baik-baik saja, dan untuk tidak melakukan apapun itu tidak apa-apa.

Manusia tentu memiliki keterbatasan, hal ini buat kita perlu belajar untuk berdamai dengan diri sendiri. Menentukan kapasitas diri sendiri dalam melakukan segala sesuatu sesuai dengan standar yang kita ciptakan terhadap diri sendiri.

Media sosial seringkali buat kita jadi lebih mudah untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain, yang pada akhirnya membuat kita cemas terhadap aktualisasi diri sendiri. Kamu bisa secara bertahap mengurangi penggunaannya atau memfilter segala sesuatu yang dirasa tidak baik tehadap kesehatan mentalmu. Ingat, bermedia sosial seharusnya membuat kita merasa nyaman, dan bukan sebaliknya.

Coba catat dan lakukan kegiatan yang membuatmu merasa tenang, bukan tertekan, apapun itu yang dapat membuat dirimu merasa lebih senang dan nyaman. Kenali diri sendiri untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan.

Di masa karantina ini kita perlu meluangkan waktu lebih banyak untuk berefleksi dan mendengarkan lebih dalam apa yang diri kita butuhkan, terlepas dari segala macam standar sosial.

Pada akhirnya, agar kita dapat terus bertahan di kala pandemi yang tidak pasti kapan akan berakhir ini, kita perlu belajar untuk berdamai, berdamai dengan keadaan, dan terpenting dengan diri sendiri. Keadaan seperti ini wajar jika bisa membuat kita memerlukan waktu lebih banyak untuk rehat.

Kita selalu memiliki pilihan untuk melakukan apapun demi diri sendiri, tidak perlu terlalu khawatir jika tidak melakukan apapun. Dengan berjaga jarak dan mematuhi protokol kesehatan pun kita sudah sangat berkontribusi untuk keselamatan banyak orang.

Kita belum tahu kapan pandemi ini akan berakhir, maka menjaga kesehatan mental masing-masing menjadi hal yang penting. Rasa cemas atau anxiety adalah hal yang manusiawi, tidak perlu disangkal dan cobalah berbagi kecemasan itu kepada orang-orang disekitarmu. Luangkan waktu untuk berkomunikasi dengan siapapun kalau itu membantumu merasa tenang.

Mari kita berdamai dan perlahan temukan cara terbaik bagi diri sendiri untuk terus bertahan dan memelihara kesehatan tubuh dan mental kita masing-masing, sembari berdoa agar keadaan segera membaik.

Penulis: Bunga Revina Palit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *