Radikalisme dan Peranan Kita Bersama untuk Anak

Sudah bukan lagi hal baru bahwa keterlibatan anak – anak dalam pusaran
ideologi radikalisme dan terorisme dapat kita ketahui bersama. Selalu ada berbagai
macam cara bagaimana anak dapat terlibat secara aktif dalam setiap peristiwa
kekerasan dan teror.
Kita dapat melihat kebelakang dengan adanya sejumlah peristiwa radikalisme yang
melibatkan anak-anak terjadi di beberapa tempat dalam bom bunuh diri di Surabaya
dan Sidoarjo. Semua peristiwa itu bahkan digerakkan dan dilakukan oleh satu
keluarga termasuk anak-anak.
Disini memperlihatkan bahwa anak-anak telah menjadi korban radikalisasi ideologi
terorisme oleh para orang tua yang seharusnya menjadi penjaga ideologi bagi anakanaknya.
Hal yang lebih mencengangkan pun dapat kita lihat lebih jauh melalui
keterlibatan anak-anak dalam fenomena ISIS.
Dalam mencegah terjadinya paparan radikalisme pada anak, sebagai orang tua bisa
saja berusaha untuk membentengi anak dari nilai-nilai tersebut dan mendidiknya
dengan penuh kasih sayang, perdamaian, dan toleransi. Namun, bagaimana jika
pelaku indoktrinasi dilakukan oleh orang tua itu sendiri, yang seharusnya menjadi
garda terdepan dalam melindungi anak.
Melihat banyaknya peristiwa terorisme yang melibatkan anak-anak ada dalam peranan keluarga secara langsung.
Melakukan infiltrasi radikalisme pada anak oleh orang tuanya sendiri sangat sulit
dideteksi karena hal tersebut terjadi di dalam ruang-ruang privat.
Oleh karena itu, menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto, perlu
pemberdayaan dan peningkatan keluarga yang tidak sebatas pada orientasi
ekonomi, tetapi lebih kepada pemahaman dan edukasi mengenai nilai-nilai keluarga.
Peranan ranah pendidikan juga perlu dimaksimalkan dalam menangkal radikalisme
pada anak, mulai dari pendidikan paling dasar hingga pendidikan tinggi. Memastikan
wawasan keagamaan yang seimbang dengan wawasan kebangsaan pada anak,
hingga membiasakan anak dapat menciptakan suasana yang toleran. Namun
demikian, mesti dipastikan pula bahwa tenaga pendidiknya tidak berpaham radikal.
Sehingga peran untuk deradikalisasi di lingkungan pendidikan ini dapat membantu
menghindarkan anak-anak dari paham radikal ataupun membebaskan anak dari
pemikiran tersebut.
Selain daripada itu, melakukan pengawasan terhadap sumber-sumber belajar anak,
baik dalam bentuk buku, gambar, internet, terlebih dalam media sosial yang sangat
mungkin dapat dijangkau anak-anak menjadi penting dilakukan mengingat begitu
besarnya pengaruh media-media tersebut kepada anak-anak di zaman sekarang ini.
Kita harus dapat memastikan dalam menciptakan konten-konten yang baik serta
positif yang dapat dijangkau oleh anak-anak, dan lebih luasnya dapat sampai ke
dalam ranah keluarga.
Edukasi mengenai nilai-nilai keluarga dan literasi media sosial bagi anak juga dapat
kita sebarkan melalui media-media dalam dunia nyata maupun dunia maya,
mengingat pentingnya menciptakan lingkungan yang positif dapat menjadi tanggung
jawab kita semua. Menjangkau lingkungan anak terhadap hal-hal yang positif sangat
membutuhkan peranan besar dan konsisten dari berbagai pihak. Memastikan
lingkungan anak untuk terjaga dari ancaman ideologi radikalisme dan terorisme pun
membutuhkan peranan besar dari berbagai pihak.
Kita sebagai generasi muda dapat turut berperan penting dengan terus mengadakan
konten-konten positif melalui berbagai media yang ada. Kita turut bertanggung jawab
menciptakan lingkungan yang baik dan positif yang dapat dijangkau anak-anak
dalam perkembangannya melihat dunia yang luas. Karena dengan hal ini,
terciptanya rasa kasih sayang, perdamaian, dan toleransi dapat secara nyata
ditujukan kepada mereka dan mengajaknya turut berperan menciptakan lingkungan
yang sama. Karena dengan terciptanya lingkungan yang baik, dapat menciptakan
pula insan – insan yang baik bagi bangsa ini.

Penulis :
Bunga Revina Palit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *