Cegah Radikalisme Dengan Kearifan Lokal

Sebenarnya, jika mengulas kearifan lokal setiap daerah di Indonesia akan sangat panjang pembahasannya. Bukan hanya dalam artian leksikal saja tetapi juga dalam pemaknaan kata.
Jadi, secara tidak langsung, untuk memahami hal tersebut dibutuhkan ketrampilan sastra tentang tata bahasa dari daerah-daerah tersebut. Dan ini tidak mudah dilakukan, apalagi oleh orang awam.
Begitu juga dengan kearifan lokal di Sulawesi Utara. Sebuah wilayah yang terletak di bibir pasifik, dengan jumlah penduduk hampir mendekati 3 jutaan orang.
Selain itu, di Sulut juga terdapat 15 Kabupaten dan Kota, dan terbagi beberapa etnis. Etnis paling besar tentu saja Minahasa, diikuti oleh Bantik dan beberapa etnis lain yang tersebar di beberapa wilayah kabupaten.
Ini hanya gambaran singkat betapa Sulut memiliki kekayaan budaya, bahasa dan juga kearifan lokal yang tidak sedikit. Mulai dari semboyan, tradisi, kebiasaan hingga adat istiadat yang masih dipegang teguh hingga kini.
Yang paling terkenal mungkin Mapalus, yang merupakan sebuah prinsip gotong royong, saling membantu untuk meringankan beban kerja orang lain. Kata “Orang lain” dalam hal ini tidak boleh diartikan secara subjektif, yang mana hanya dibantu jika ada hubungan sosial dan persaudaraan.
Dalam mapalaus, Kata gotong royong ini mencakup semua orang, tanpa pandang latar belakang dan etnis.
Kearifan lokal dari Sulut ini memberikan pesan yang Universal. Karena, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa hidup sendiri. Alias, tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang tidak membutuhkan orang lain.
Tidak hanya itu saja, kata ini mempunyai makna yang lebih luas, bahkan bisa digunakan sebagai tameng guna mencegah radikalisasi dan terorisme.
Apakah memang bisa? Jawabannya tentu saja bisa. Dalam takaran yang tepat, Mapalus bisa menjadi obat yang bisa membawa pemahaman tentang arti penting hidup bersama.
Kehidupan bersama secara kolektif perlu di jamin. Apa yang harus di jamin? Perdamaian. Agar ia tetap ada dan hadir ditengah-tengah masyarakat tanpa ada yang berusaha mengusiknya.
Karena itu, kearifan lokal akan menjadi media introspeksi diri yang selalu menjadi alaram untuk mengingatkan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan.
Radikalisme, pada dasarnya, berusaha untuk menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang baru, dengan cara-cara yang berbahaya.
Cara-cara yang berbahaya itu bisa terbagi menjadi beberapa elemen, mulai dari mengkafirkan Agama orang lain, Budaya orang lain dan meyakini bahwa satu-satunya yang benar adalah apa yang dipeluk dan dianggapnya benar.
Ini adalah prinsip yang berbahaya karena bisa menciderai kehidupan masyarakat dari kelompok yang paling kecil yakni keluarga, hingga yang paling besar yakni Negara.
Disisi lain, radikalisme melegitimasikan korban-korban yang jatuh akibat pemaksaan kehendak tersebut. Kasus Bom Bali, Bom Thamrin dan Bom Surabaya adalah contohnya.
Yang berarti, siapa saja bisa menjadi korban. Korban dari usaha legitimasi tadi. Yang sejatinya, merupakan ancaman kebebasan dan kedamaian yang sedang berusaha digapai oleh masyarakat Indonesia.
Sekarang kita kembali pada istilah mapalus tadi. Istilah ini sebenarnya tidak saja ditemui di Minahasa, tetapi juga diberbagai daerah dengan penyebutan yang berbeda-beda. Misalnya, di Banggai kepulauan disebut dengan Pololo Buku yang berarti sistem balas buku ‘jasa’.
Cerminan hidup yang sudah lama ada dan seolah menjadi kode etik lisan bagi masyarakat di Sulut. Dulunya mungkin Mapalus dikenal hanya saat tradisi panen, untuk membuat rumah, peristiwa duka dan lain sebagainya.
Tapi sekarang, pengertian dan pemaknaan tidak sebatas itu saja. Kalau dulu, Mapalus bisa terjadi karena reaksi spontan, kini tidak lagi. Mapalus telah menjadi sesuatu yang wajib dilakukan tanpa menunggu balas budi dari orang yang dibantu.
Lantas, secara teknis apakah kearifan lokal ini bisa mencegah terorisme dan radikalisasi ditengah-tengah masyarakat? Jawabannya iya dan benar.
Mengapa? Karena secara teknis, kearifan lokal adalah Visi hidup dan Kode Etik masyarakat, yang secara tidak langsung mempunyai kekuatan yang merekatkan satu orang dengan orang lain, dan menjadi pengontrol moril untuk terus memelihara hubungan antara satu orang dengan orang lain.
Bukan sekedar asumsi belaka, Dikutip dari Website resmi BNPT (https://www.bnpt.go.id/bnpt-gelar-fgd-survei-nasional-efektivitas-kearifan-lokal-dalam-menangkal-radikalisme-di-era-milenial-di-32-provinsi.html ; Di Akses Juli 2019) Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) membuktikannya secara Ilmiah dengan melakukan survei tentang “Efektivitas Kearifan Lokal Dalam Menangkal Radikalisme di Era Milenial di 32 Provinsi”
Metode survey tersebut merupakan kombinasi dari kuantitatif dan kualitatif dengan responden dari akademisi dan warga masyarakat yang tersebar di 32 provinsi di Indonesia. Survey yang dilakukan pada April-September 2018 ini membuahkan hasil. Dengan kata lain, kerarifan lokal punya peluang untuk mencegah radikalisme dan terorisme secara langsung dan tidak langsung.
Oleh karena itu, sangat penting untuk terus menjaga dan memelihara kearifan lokal. Fungsinya tidak saja sebatas pada artinya, tetapi lebih besar dari itu. Bahkan bisa menjadi “zirah” bagi ndonesia untuk terus mempertahankan persatuan dan kesatuan.

Penulis : Wirno Bungkul
Editor : Ian Langkai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *