Malpraktik di Media Sosial

Keberadaan media sosial memiliki banyak manfaat bagi manusia, Mulai dari manfaat ekonomi, budaya, bahasa, hingga koneksi. Dan setiap orang dapat dengan bebas mengekspresikan diri di sana. Itu artinya, media sosial adalah perpanjangan tangan dari apa yang dipikirkan, yang hendak dilakukan dan bahkan, menunjukan jati diri penggunannya.
Saking populernya media sosial, setiap hari pertumbuhannya begitu fantastis. Setiap hari ada saja orang yang membuat akun di media sosial, entah itu di Instagram, Facebook, Twitter atau LinkedIn.

Di media sosial, setiap orang bisa dengan bebas berujar, berkata, berkomentar, menyampaikan argument, membantah, dan lain sebagainya. Hanya perlu menjentikan jari, kata-kata tersebut sudah bisa dibaca oleh orang lain, dengan letak geografis yang jauh.
Para pengguna medsos kemudia dikenali sebagai masyarakat siber. Pada masyarakat siber ini, tidak ada batas Wilayah seperti yang dilihat pada sebuah negara.
Anda bisa saling mengirim pesan, dan berkomentar dengan orang lain di Eropa atau di Brazil, sementara posisi realtime anda berada di bilik Kos ukuran 4×4 di Manado. Itulah hebatnya media sosial. Bisa menghubungkan satu orang dengan orang lain dengan mudah, nyata dan cepat.
Disisi lain, tidak saja manfaat yang didapatkan, tetapi juga tantangan dan masalah. Mulai dari masalah privasi data, hingga Hoax dan ujaran kebencian. Coba tebak tantangan apa yang paling berbahaya? Tentu saja Hoax dan Ujaran Kebencian.

Malapraktik bermedsos
Lebih tepat kalau menyebutnya Malapraktik. Mengapa? Sebab tingkat malapraktik hoax dan ujaran kebencian saat ini sudah masuk tahap fabrikasi. Patut diketahui, malapraktik merupakan bentuk baku sementara malpraktik dan malpraktek merupakan bentuk tidak baku.
Tahap fabrikasi berbahaya sekali. Anda pasti ingat kasus-kasus seperti Saracen dan akun-akun buzzer yang marak beredar sekarang ini.
Setiap hari mereka memproduksi berita-berita hoax, yang tidak bisa diuji kebenarannya. Apa tujuan produksi berita hoax tersebut? Apa lagi kalau bukan ujaran kebencian.
Hoax biasanya disertai dengan narasi-narasi sepihak dan timpang, yang biasanya menyerang seseorang, lembaga dan institusi dengan tujuan menyudutkannya.Bahkan, jika hoax tersebut ditujukan kepada orang, biasanya akan berakhir pada persekusi.

Baru-baru ini misalnya, sebuah video yang memperlihatkan sebuah truk yang disangka truk TNI membawa warga Cina viral. Dan setelah ditelusuri, bukan membawa warga Cina melainkan mahasiswa kesehatan dan kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya. Truk yang digunakan pun bukanlah truk TNI.
Kegiatan ini adalah malapraktik yang serius. Karena, orang-orang dengan bebas menjudge sesuatu tanpa mengkongirmasi dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Hoax akan menjadi pekerjaan rumah besar bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan kemudahan teknologi, siapapun bisa memproduksi Hoax baik dalam skala kecil ataupun besar.
Sayangnya, tingkat malapraktik tidak saja di lakukan oleh perorangan atau oknum saja. Media-media mainstream, yang besar pun bisa memproduksi berita-berita yang belum diuji kebenarannya.

Baru-baru ini misalnya, media-media seperti Liputan6 dan Tribun Network pun melakukan malapraktik serupa. Liputan6 misalnya, mengeluarkan artikel tentang ‘Minum Sperma Tiap Hari Buat IQ Wanita ini meningkat’. Artikel tersebut disadur dari informasi berbahasa Inggris dengan gambar ilustrasi seorang wanita. Yang setelah ditelusuri artikel tersebut tidak benar, melainkan sebuah permainan Mensa Brain Training. Sekarang artikel tersebut telah di Koreksi.
Begitu juga dengan Tribun Network yang memproduksi berita tentang Wanita Cerdas Asal Surabaya, yang bekerja di NASA dengan gaji 200 juta per bulan. Berita ini sudah tidak ada dan telah dihapus oleh pihak mereka.
Sayangnya, misinformasi yang dilakukan itu masuk kategori Hoax yang parah. Dan masyarakat menjadi korbannya. Kebutuhan untuk mendapatkan informasi pun dipelintir, dengan tujuan mendapatkan sensaisional semata. Dan ini merupakan tantangan terbesar bagi industry media dan wartawan.

Cegah malpraktik di Media sosial
Karena maraknya malpraktik yang seolah menjadi pabrik hoax dan ujaran kebencian, dibutuhkan pencegahan yang perlu. Pencegahan ini harus dilakukan dari kelompok terkecil yakni individu.
Semua pasti yakin, tidak ada niat yang terjadi tanpa didasari pengetahuan atas sesuatu. Misalnya, hoax kesehatan yang kini menempati urutan ketiga sebagai hoax paling banyak menyebar ke media sosial.
Ada satu pertanyaan penting disini, mengapa hoax kesehatan begitu populer dan banyak di share? Salah satu alasannya karena kurangnya edukasi tentang kesehatan.

Kita beralih ke soal Politik dan Agama. Dua hal ini juga marak beredar, dan bahkan berujung para praktik persekusi. Apa yang salah disini? Karena masyarakat belum paham etika bermedsos.
Filter di medsos untuk mencegah hal-hal diatas tidak secanggih dengan filter yang dilakukan manusia. Oleh karena itu, harus ada informasi yang terus menerus dilakukan, disebarkan dan diviralkan.
Tenang apa? Tentang etika dalam bermedsos. Mulai dari check and recheck berita, hingga ogah share kalau berita tersebut belum terverifikasi.
Edukasi standar seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat. Agar malapraktik di media sosial tidak terus menerus terjadi.

Penulis : Wirno Bungkul

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *