Hindari Radikalisme Pada Anak Lewat Eksplorasi Positif (EKSPOS)

Sudah saatnya dunia dilihat hanya lewat senyuman anak-anak, tidak ada lagi kelaparan, ketimpangan dan isak tangis karena ketakutan. Lama sudah tidak berjumpa dengan mereka; para anak-anak yang bergotong royong bermain mainan lokal seperti petak umpet dll. Hakekat zaman adalah untuk selalu berubah dan yang dulu selalu tergantikan dengan yang baru, begitu pula dengan orientasi lingkungan dimana tempat kita berada, bermain, berinteraksi dsb.

Era baru saat ini memang sangat memudahkan kita untuk melihat dunia hanya dari genggaman tangan saja. Namun sayangnya, kehadiran teknologi yang secara virtual mudah sekali untuk dimanfaatkan dalam hal-hal yang negatif. Dunia maya yang menjadi tempat selancar baru untuk bermain bagi para anak-anak, tak menutup kemungkinan juga hal ini dimanfaatkan oleh mereka—para radikalisme—untuk menghancurkan karakter anak bangsa lewat konten-konten yang sangat tidak mendidik. Dunia yang begitu liar ini—tanpa batas—masih begitu rapuh dengan segala entitas di dalamnya. Bagaimana tidak, teknologi yang hari ini bersetubuh dengan kita, itu tidak mengenal batas negara, budaya, ideologi, bahkan norma.

Merebaknya paham radikal lewat dunia game online seperti ISIS Simulator dan Grand Theft Auto: Salil Al-sawarem menjadikan gerakan mereka lebih masif  untuk merasuki kalangan anak-anak. Apabila hal ini tidak dapat diantisipasi dengan baik. Jangan sampai salah satu dari anggota keluarga kita yang kita cintai juga termasuk dari mereka ! stimulasi yang diberikan pun bermacam-macam, namun yang paling dominan adalah dengan menggunakan ornamen-ornamen agama untuk memperkuat propaganda mereka.

Sensitifitas dunia maya dengan akses informasi yang begitu luas sangatlah memungkinkan anak-anak rentan untuk terpapar paham radikal yang bermuatan negatif. Ini bisa saja terjadi karena tingkah laku mereka sangat mudah sekali meniru lingkungan lebih dahulu dibandingkan mengetahui kebenaranya. Semisal konflik yang selalu terproduksi itu tak lain salah satu penyebab adalah ketidakmampuan dalam menimbang informasi. Dengan imajinasi yang masih begitu liar, anak-anak akan lebih mudah untuk menganalogikan pengalaman yang mereka rasakan di dunia virtual dan mereka ulang pada kenyataan.

Pendidikan adalah salah satu wadah terbaik sebagai anti-tesis dari pemahaman radikalisme seperti ini. Pendidikan mampu berperan sebagai langkah preventif untuk mencegah dan menjaga generasi penerus bangsa agar tidak terkontaminasi pemahaman radikalisme. Untuk itulah pendidikan harus bertujuan menciptakan generasi muda yang berorientasi pada pembangunan karakteristik anak bangsa. Apalagi pendidikan dalam lingkungan keluarga, keluarga sebagai komponen sosial terkecil dan terdekat dari anak itu tinggal, maka para orang tua dapat dijadikan sebagai aktor pertama dalam perlindungan. Orang tua haruslah getol dalam melihat pola perkembangan anak, mulai dari segi perkembangan intelektual, emosional dan spiritual.

Membatasi anak dalam menggunakan gadget bukanlah hal yang buruk, apalagi mereka belum mengetahui dengan detail tentang lingkungan mereka. Agar anak tumbuh kembang dengan baik, mereka harusnya bermain dengan teman yang sebaya untuk menyesuaikan pola pikir mereka. Ini bukanlah pembunuhan logika, apalagi membatasi hak demokrasi mereka. Tapi justru lebih baik, karena memang mereka belum mampu mencerna visualisasi dalam “gadget” yang sebenarnya bukan untuk kalangan mereka.

Untuk itu orang tua berkewajiban untuk mengeskplorasi setiap kegiatan anak agar tetap positif. Eksplorasi Positif (EKSPOS) merupakan tindakan penjelajahan untuk mengawasi anak dan mengarahkan mereka untuk menggunakan gadget secara positif. Langkah yang dilakukan dapat dimulai dengan mengawasi aktivitas mereka menggunakan gadget. Bisa saja dengan melihat histori pencarian mereka, atau bisa juga dengan menggunakan aplikasi seperti kontrol aktivitas yang disediakan oleh google (https://myaccount.google.com/activitycontrols?pli=1). Namun, terlepas dari pada itu semua segala eksplorasi positif yang dilakukan, orang tua harus menyediakan media alternatif lain  untuk mereka bermain. Seperti ajak mereka liburan, jalan-jalan, dan membuat media kreatifitas seperti mengelola limbah untuk dijadikan mainan bernilai guna, berkebun mini untuk menanamkan kesadaran betapa pentingnya menjaga alam, dan berbagai kreatifitas lain yang dapat dilakukan untuk merangsang kognitif dan psikomotor mereka.

Eksplorasi positif ini harus terus dilakukan agar kemudian dapat mengarahkan anak-anak bisa lebih aktif pada dunia yang lebih nyata dan sesuai dengan umur mereka. Agar segala tindak dan perilaku mereka mencerminkan anak seusia mereka. Menggunakan gadget memang memiliki banyak manfaat dengan segala bentuk informasi yang bisa kita dapatkan. Akan tetapi, apa yang kita lihat di dalamnya begitu buram. Apalagi sekarang sudah dipergunakan untuk kejahatan seperti terorisme. Maka pembatasan penggunaan gadget pada anak itu merupakan hal yang lumrah dilakukan. Bahkan seorang Bill Gates saja melarang anaknya untuk menggunakan gadget, pendiri Microsoft ini membatasi anaknya menggunakan gadget sebelum mereka berusia 14 tahun.

Segala tindak perilaku menyimpang seperti terorisme itu selalu berawal dari pemicu, ia tak lahir begitu saja, ada banyak faktor yang menjadi penyebab. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan media sosial, game online, dan bentuk-bentuk teknologi lain untuk medan propaganda. Untuk itu cerdaslah dalam menggunakan teknologi apalagi memberikan informasi. Kembangkan kreatifitas anak-anak lewat tindakan nyata, jaga mereka dari hantu-hantu propaganda. Karena kata para pendiri bangsa “Indonesia lebih berharga walau nyawa menjadi taruhanya”. Dan sekarang tugas para generasi muda untuk memperjuangkan lewat karya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *