MENGENANG PERISTIWA MERAH PUTIH 14 FEBRUARI 1946

Kita tahu Bersama, Indonesia mendapatkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Namun, setelah mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, masalah tidak berhenti begitu saja, beberapa bulan setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada 14 Februari 1946, tanggal yang kini diidentikan dengan perayaan hari Valentine, Ternyata menjadi tonggak sebuah peristiwa besar nan heroik yang terjadi di Sulawesi Utara.  peristiwa yang mulai memudar itu disebut Perestiwa Merah Putih.

Latar belakang terjadinya peristiwa tersebut adalah ketika Belanda menyatakan provokasi terhadap dunia luar yang menyebut Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 hanyalah untuk segelintir orang di pulau Sumatera dan Jawa. 

Oleh karena itu, Berbagai himpunan rakyat di Sulawesi Utara, termasuk para pemuda meliputi pasukan KNIL dari kalangan pribumi, barisan pejuang, dan laskar rakyat berusaha merebut kembali kekuasaan atas Manado, Tomohon, dan Minahasa. 

Peristiwa yang dipimpin oleh dua tokoh utama yakni Letnan Kolonel Charles Choesj Taulu seorang pemimpin dari kalangan militer dan  seorang politisi dari kalangan sipil, Bernard Wilhelm Lapian ini telah direncanakan sejak 7 Februari yang puncaknya terjadi tepat di 14 Februari 1946.

Sejarawan Sulut Jessy Wenas, dalam bukunya “Sejarah dan Kebudayaan Minahasa”  menyebutkan bahwa Tengah malam tanggal 14 februari 1946 anggota KNIL Minahasa berhasil melumpuhkan penjaga tangsi Teling Manado… kemudian anggota KNIL yang memihak gerakan “merah putih” lainnya menguasai tangsi militer KNIL Tersebut (Wenas : 2007)

Dikutip dari laman Lembaga penjaminan mutu pendidikan (LPMP) Sulawesi Utara Peristiwa itu berlanjut dengan pengibaran sang saka Merah Putih di tangsi yang terkenal angker karena pasukan yang menempati kompleks milter itu dikenal sebagai pasukan pemberani andalan Belanda. Para pejuang itu merobek warna biru bendera Kerajaan Belanda, menyisakan dwi warna Merah Putih dan mengibarkannya di tangsi itu. (lpmpsulawesiutara.kemdikbud.go.id, Diakses 11/02/21).

Peristiwa tersebut merupakan bentuk perlawanan rakyat Sulawesi Utara untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Akhirnya, bendera Merah Putih bisa berkibar di Sulawesi Utara, seluruh tahanan pro Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 berhasil dibebaskan, sekitar 600 orang pasukan dan pejabat Belanda berhasil ditawan. Pada tanggal 16 Februari 1946, Beredar selebaran yang menyatakan bahwa Sulawesi Utara adalah bagian dari Indonesia.

Merefleksi peristiwa tersebut, harusnya kita bersyukur karena perjuangan para rakyat Indonesia khususnya Minahasa tidaklah sia-sia dalam mengusir penjajah. Mengapa? Karena bukti nyatanya dapat kita rasakan sekarang ini yaitu hidup secara merdeka yang bebas dari penjajah

Memang di zaman sekarang kita tidak lagi berperang sama persis dengan apa yang dilakukan para pahlawan tempo dulu. Namun, dari peristiwa merah putih kita dapat belajar mengenai pentingnya mengenang jasa para pahlawan agar tidak lalu begitu saja dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat seperti hidup bertoleransi dalam kehidupan yang majemuk, mengisi kemerdekaan ini dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan berprestasi untuk bangsa dan negara, hingga hal-hal kecil seperti menghindari berita bohong yang sering beredar.

Intinya, kita tidak perlu mengenang peristiwa Merah Putih dengan berperang menggunakan senjata seperti yang dilakukan para pahlawan sebelumnya namun, dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat saja sudah cukup untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah mendahului kita.

-Bryan Korua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *