SEKOLAH SEBAGAI MEDIA KEBERAGAMAN

Keberagaman merupakan salah satu isu yang tak pernah padam pembicaraannya baik itu dari segi positif maupun negatif.  Dari segi negatif, baru-baru ini beredar berita mengenai pemaksaan siswi non-muslim di salah satu Sekolah Negeri di Padang untuk menggunakan jilbab. Hal ini  yang tentunya sudah mencoreng arti keberagaman itu sendiri . Apalagi kejadian tersebut terjadi di Sekolah Negeri. Sekolah yang seharusnya menjadi wadah para siswa maupun siswi untuk mendapatkan ilmu keberagaman.

Kontras dengan hal tersebut, yang terjadi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tana Toraja malah sebaliknya, dimana seorang guru non muslim bernama Eti Kurniawati mengajar mata pelajaran geografi di Madrasah  tersebut. Hal ini sekaligus menjadi contoh keberagaman dan toleransi di Sekolah. 

Meskipun sempat menjadi perdebatan, mengingat Eti merupakan pemeluk agama Kristen. Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama , Muhammad Zain menegaskan guru non muslim tak melanggar aturan untuk mengajar di madrasah. “Penempatan CPNS guru Geografi yang non muslim di MAN Tana Toraja, tidak melanggar aturan,” kata Zain dalam keterangan resminya, Rabu (3/2/2021).

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad. Ia menganggap pengangkatan tersebut tidak masalah sepanjang memenuhi tiga unsur yakni pertama tempat, kedua kedaruratan, dan ketiga tidak mengajar pelajaran agama Islam  dikutip dari laman Muhammadiyah, Rabu (3/2/2021)

Sekolah bisa menjadi salah satu media pembelajaran keberagaman asalkan penerapan sekolah ramah perbedaan benar-benar diterapkan. Mengapa? Karena dari sekolah dapat kita jumpai teman-teman maupun guru-guru dari latar belakang yang berbeda.

Dari situlah peserta didik belajar memahami keberagaman yang ada tanpa mendiskriminasi satu dengan yang lain. Penerapannya bagaimana? Tentunya dalam kehidupan di sekolah anak didik harus diperlakukan sama tanpa membeda-bedakan latar belakang, begitu pula dalam pertemanan di lingkungan sekolah para siswa/i pasti akan dipertemukan dengan sesama siswa/i dengan keadaan yang berbeda-beda. Nah, dari situlah peserta didik dapat belajar bahwa perbedaan itu nyata dengan bergaul tanpa membeda-bedakan.

Sebenarnya secara alamiah sekolah sudah pasti menjadi media keberagaman  tinggal sistem di sekolahnya yang harus benar-benar menerapkan sekolah berbasis ramah perbedaan agar lebih nyata lagi penerapannya.

-Bryan Korua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *