Ajari Arti Perbedaan Pada Anak Didik Tanpa Membeda-bedakan

Tahukah kamu  bahwa Indonesia kaya akan keberagaman mulai dari suku, agama, hingga budaya. Merujuk pada sensus penduduk oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Indonesia memiliki sekitar 1.340 suku bangsa. Dengan jumlah yang mencapai ribuan tentunya terdapat perbedaan di dalamnya.

Bicara mengenai perbedaan tentu erat kaitannya dengan toleransi. Djohan Effendi mantan Menteri Sekretaris Negara pernah mengungkapkan bahwa “toleransi adalah sikap atau perilaku seseorang yang menghargai berbagai macam perbedaan”. Jadi dapat disimpulkan bahwa toleransi tercipta karena adanya sikap yang menghargai perbedaan bahkan dari perbedaan tersebut dapat mempersatukan

Namun akhir-akhir ini tantangan demi tantangan mengenai perbedaan terus datang silih berganti, mulai dari narasi-narasi intoleransi yang sering muncul di media sosial hingga kasus intoleransi soal seragam sekolah yang terjadi di Padang.

Oleh karena itu, penting sekali memahami betul arti perbedaan yang sesungguhnya tanpa membeda-bedakan dalam hal ini pentingnya Pendidikan di sekolah dalam mengamalkan sekolah yang ramah terhadap perbedaan.

Sekolah harus menjadi lembaga yang bisa mengajari nilai toleransi terhadap perbedaan. Sekolah juga harus menjadi miniatur dan medium pendidikan yang bisa menanamkan anak didik mengenal dan menghormati perbedaan. Tentunya semua itu diamalkan bukan hanya sekadar menjadikannya sebagai salah satu kurikulum tetapi lebih ditekankan pada penerapannya seperti sekolah tidak membeda-bedakan anak didik berdasarkan agama,suku, dan budaya atau dengan kata lain sekolah wajib memperlakukan dengan adil peserta didiknya.

Jika sekolah ramah perbedaan terwujud, percayalah akan besar dampaknya bagi bangsa ini kelak. Karena anak didik di setiap sekolah merupakan generasi penerus bangsa. Maka dari itu, penting dari sekarang mewujudkan sekolah ramah perbedaan.

Jadi, mari membenahi bangsa ini dimulai dari membenahi dunia pendidikan kita, lebih spesifik lagi membenahi sekolah dengan ramah perbedaan tanpa membeda-bedakan anak didik.

-Bryan Korua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *