PENTINGNYA LITERASI DIGITAL, CEGAH PAHAM EKSTREMISME DI MEDIA SOSIAL

Kehadiran media sosial diiringi jumlah penggunanya yang semakin menjamur dari hari ke hari, memberikan fakta menarik betapa kekuatan internet bagi kehidupan (Nasrullah, 2015). Pasalnya menurut data yang ada lewat Hootsuite (We are Social) di tahun 2020 tercatat dari total populasi (jumlah penduduk) di Indonesia sebanyak 272,1 juta, pengguna media sosial yang aktif sebanyak 160 juta. Segala informasi pasti awalnya di terima masyarakat melalui media sosial karena para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, dan berbagi. Jarak dan waktu bukan lagi masalah saat menyampaikan atau membagikan informasi. Lewat kemudahan media sosial, penyebaran informasi dapat berlangsung secara cepat, dengan biaya lebih murah, ini merupakan hal yang positif yang diberikan media sosial. Di sisi lain, interaksi secara tatap muka cenderung menurun dan menimbulkan konflik karena kesalahpahaman atau miskomunikasi lewat jagat maya, masalah privasi, rentan terhadap pengaruh buruk orang lain. 

Mencegah dampak buruk dari media sosial, literasi digital tak bisa dilewati. Menurut Gilster (1997:1-2) Literasi digital sebagai suatu kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital. Secara langsung dapat dipahami bahwa literasi digital bukan hanya mencakup kemampuan membaca, namun dibutuhkan pula suatu proses berpikir secara kritis untuk melakukan evaluasi terhadap informasi yang ditemukan melalui media digital. Masyarakat yang menggunakan media sosial harus bisa memanfaatkan teknologi ini secara bijak, ini kembali lagi ke masing-masing individu. Berdasarkan survey kominfo 2020 secara nasional, indeks literasi digital di Indonesia masih berada pada level “sedang”.

Sementara pemahaman ekstremisme sudah merambah dunia digital, dengan memakai isu agama yang paling dominan saat ini.  Hal itu tentu menambah kecemasan, karena kita tak tau sejauh mana masyarakat akan terpapar lewat penggunaan media sosial mereka sendiri. The International Centre for Counter-Terrorism (ICCT), yang berbasis di Den Haag mengawasi ekstremisme lewat indikator yang telah ditentukan, ICCT memiliki ribuan kata yang masuk kategori ekstrimis, di antaranya “kafir”, “sesat”, “syariat Islam”, “tolak demokrasi”, “jihad”, “antek asing”, “komunis”, “liberal”, “pengkhianat agama”, dan “musuh Islam”. Kata-kata tersebut tersebar di Twitter, Facebook, Instagram, Telegram, Whatsapp. Ada pula video-video di platform YouTube yang mengandung pesan seperti “demokrasi adalah sumber kekacauan” dan seruan “umat Islam terancam oleh adanya aliran sesat”, “dipimpin kafir adalah kezaliman”, dan “komunisme adalah paham berbahaya”. Mengingat beragamnya kata-kata ekstrimis tersebut yang tersebar di jagat maya, maka dapat dikemukakan bahwa sebagian besar masyarakat bersifat “rentan” (susceptible) terpapar ekstremisme. Kondisi pandemi Covid-19 saat ini juga menjadi peluang besar bagi mereka untuk menyebar paham tersebut, karena sebagian besar kegiatan masyarakat beralih ke daring.

Pentingnya upaya membangun kesadaran dan literasi media bagi masyarakat, di tengah kurangnya pemahaman warganet terhadap literasi digital yang menjadi salah satu faktor determinan dalam termakannya paham ekstremisme yang mengancam persatuan dan keberagaman bangsa. Literasi digital, seperti halnya literasi media, memiliki tiga elemen yakni kompetensi mandatoris, lokus personal, dan struktur pengetahuan. Kompetensi mandatoris terkait dengan kecakapan yang harus dimiliki oleh individu ketika mengakses media baru. Lokus personal berhubungan dengan tiga tipologi individu dalam bermedia baru: individu yang termediasi, individu yang virtual, dan individu yang berjejaring. Sedangkan struktur pengetahuan berimplikasi pada pengetahuan tentang informasi dan dunia sosial yang dijalani oleh tiap individu (Monggilo, 2020).

Upaya pemerintah untuk terus mensosialisasikan literasi digital ini ke berbagai ranah seperti agama dan pendidikan, harus terus dilakukan demi menciptakan warganet yang cerdas dan bijak dalam memilah informasi. Pemerintah juga harus terus melakukan pemblokiran setiap situs, atau postingan yang mengandung kebencian dan SARA yang semakin banyak tersebar di media sosial. Namun, semuanya akan kembali ke pribadi masing-masing yaitu masyarakat yang menggunakan media sosial. Dengan bijaklah melakukan cek dan ricek terhadap setiap informasi yang ada dan di terima di platform media sosial apapun. Warganet harus menjadi pribadi yang cerdas dengan perbanyak riset akan cara membedakan mana berita atau informasi yang mengandung paham ekstremisme dan mana berita yang benar, agar tidak dengan gampangnya bisa terprovokasi oleh pesan-pesan kebencian, karena pada akhirnya masyarakat sendirilah yang bisa memilih dan menolak untuk membaca dan membagikan media-media yang cenderung menyebarkan konten negatif.

Bersama lawan paham Ekstremisme di media sosial!!!

Penulis: Claudia Selan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *