HENTIKAN BERITA HOAX DI TENGAH BENCANA YANG MENIMPAH INDONESIA

Baru saja memasuki tahun yang baru 2021, bahkan januari saja belum berakhir. Deretan bencana harus menimpa Indonesia yang mana membuat duka dan luka. Di mulai dengan tragedi jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ182 pada 9 Januari. Kemudian terjadi banjir besar di Kalimantan Selatan pada 13 Januari dan disusul terjadinya gempa bumi dengan magnitudo 5,9SR pada tanggal 14 Januari di Sulawesi Barat yang memakan banyak korban baik korban luka hingga meninggal dunia. Belum berhenti di situ, pada tanggal 16 dan 17 Januari Kota Manado dilanda banjir dan tanah longsor disertai dengan gelombang laut yang tinggi hingga memasuki area pusat perbelanjaan dan rumah makan yang berada di kawasan pantai Manado. Tak sampai di situ, dikabarkan juga Gunung Merapi dan Gunung Semeru erupsi lagi dengan memuntahkan awan panas mereka. Hingga beberapa bencana lainnya yang mungkin belum terekspos.
Semua yang terjadi di atas, informasinya pasti akan bertebaran di media digital terlebih dahulu karena sekarang media digital merupakan tempat informasi yang paling cepat dan gampang untuk diakses masyarakat. Namun, tak semua berita yang tersebar terbukti kebenarannya. Jika telah dibagikan dari grup ke grup whatsapp apakah anda akan mengetahui sumber utamanya dari siapa? apakah sumbernya terpercaya? Jawabannya belum tentu anda tahu dari mana sumbernya dan belum tentu itu terpercaya.
Di tengah keadaan dunia yang semakin maju ini, tak bisa dipungkiri media digital sangat membantu dalam hal mencari informasi di masa sekarang. Tapi ingat di mana ada positif pasti ada juga negatifnya, dengan bermedia sosial saat ini, menjadikan para pengguna media sosial ingin selalu menjadi yang paling ter-update. Bagaimana caranya agar mereka bisa jadi yang paling ter-update saat ini? Ya dengan membagikan pesan atau berita dengan cepat ke jutaan orang melalui media sosial, ini tentunya baik. Tapi sangat di sayangkan beberapa orang dengan tidak bijak menggunakannya, hanya agar terlihat paling update, mereka membagikan dan meneruskan pesan atau berita tanpa menyaring dulu apa isi di dalamnya, dengan gampangnya diteruskan dari grup satu ke grup lainnya.
Ini berdampak pada deretan bencana yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia, membuat beberapa orang dengan tidak bijak menyebarkan berita yang tidak benar atau hoax, seperti yang terjadi terkait dengan tragedi jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ182 dengan beredarnya video yang di klaim sebagai peristiwa jatuhnya pesawat tersebut yang berdurasi 2:45 detik dan telah beredar di kanal YouTube, kemudian ada juga kabar selamatnya seorang bayi dari kecelakaan tersebut yang disebarkan berupa foto, dan juga beredar di aplikasi TikTok sejumlah video yang bernarasikan suasana kepanikan penumpang sebelum Pesawat Sriwijaya Air SJ182 meledak dan jatuh.
Tanpa disadari foto dan video-video yang belum terbukti kebenarannya ini dapat mengganggu dan menyakitkan hati keluarga korban, pasalnya media-media tersebut beredar di tengah proses pencarian dan evakuasi korban. Dan sangat di sayangkan bahwa foto dan video hoax tersebut dengan cepat menjadi viral di media digital membawa para pengguna media sosial percaya dengan apa yang mereka saksikan di layar gadget masing-masing.
Berkaca dari kejadian-kejadian tersebut pemerintah menghimbau para masyarakat pengguna media sosial agar dengan bijak menggunakannya, saring dan tahu betul dahulu apa isi berita, video, dsb. sebelum diteruskan dan disebar luaskan ke jutaan pengguna media sosial lainnya. Lewat hal-hal yang demikian kita juga dapat mendukung dan membantu pemerintah dalam upaya menangani bencana-bencana yang sedang terjadi di Indonesia, “Dengan membatasi diri dan tidak menyebarkan hoax, berita palsu dan berita yang tidak benar, dan agar mengacu pada berita atau informasi yang berasal dari sumber otoritas resmi,” ujar Menkominfo melalui wawancara detikINET.
Janganlah semakin memperkeruh keadaan dengan berita hoax yang tidak bisa anda pertanggung jawabankan, bijaklah bermedia sosial untuk kentraman dan kedamaian kita semua. Indonesia bisa!

Penulis:Claudia Selan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *