Mengenang Sosok Syekh Ali Jaber (Da’i Perdamaian)

      Siapa yang tak kenal dengan sosok guru, penceramah, seorang Hifdzul Qur’an. Seorang yang rela datang ke Indonesia meninggalkan negerinya demi berdakwah. Beliau adalah sang pemilik nama Syekh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber lahir di Madinah Februari 1976. Ia anak pertama dari 12 bersaudara dan menikah dengan Umi Nadia, wanita Indonesia asal Lombok, NTB, dan dikaruniai seorang anak bernama Hasan. Dikutip dari laman viva.co.id bahwasannya beliau memiliki perjalanan sebagai berikut, Pada tahun 2008, kala usia 32 tahun, Syekh Ali Jabir terbang ke Indonesia. Ia menuju ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), asal istrinya tinggal. Di sini ia menjadi guru tahfidz (hapalan) Quran, Imam salat, khatib di Masjid Agung Al- Muttaqin Cakranegara Lombok, NTB, Indonesia.

       Kariernya berlanjut saat ia diminta menjadi Imam shalat tarawih di Masjid Sudan Kelapa, Menteng, Jakarta. Selain itu, ia juga menjadi pembimbing tadarus Qur’an dan imam shalat Ied di Masid Sunda kelapa, Menteng, Jakarta. Kehadiran Syekh Ali Jaber ternyata mendapat sambutan yang sangat baik oleh masyarakat Indonesia. Dakwahnya yang menyejukkan, penyampaiannya sangat rinci, dan berisi dengan ayat-ayat Alquran dan hadits. Ia mulai sering dipanggil keliling Indonesia untuk syiar Islam.
  
  Ketulusannya berdakwah, ia mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada tahun 2011, ia menjadi Warga Negara Republik Indonesia. Sejak itu ia rutin mengisi acara Damai Indonesiaku di TvOne dan menjadi juri Hafizh Indonesia di RCTI.

     Hal tersebut demi dan untuk menyiarkan Islam lebih efektif dan melahirkan para penghafal Alquran di Indonesia, seperti ditulis dalam situsnya, ia mendirikan Yayasan Syekh Ali Jaber berkantor di Jatinegara, Jakarta, dan ia sendiri tinggal di Pondok Bambu, Jakarta Timur. Karier Syekh Ali Jaber terus mengalir. Beliau mulai tampil di berbagai program telivisi. Bahkan ia juga menjadi aktor dalam film Surga Menanti, pada tahun 2016. Film berkisah tentang Dafa (Syakir Daulay) remaja yang bercita-cita menjadi seorang Hafizh Qur’an.

   Popularitas Syekh Jaber tak kalah dengan penceramah ternama Indonesia lainnya. Meski sudah tenar lewat media, ia tetap berendah hati. Ia masih berkeliling menjadi khatib Jumat di masjid-masjid kecil di pelosok kota dan daerah. Dan sempat mengunjungi Kota Manado Sulawesi Utara, sebagai salah satu tempat beliau berdakwah. 

     Adapun rekam proses Jihad dan dakwah beliau yaitu, sebagai Penceramah dan Imam masjid di Madinah, Guru Tahfidz Al-Qur’an di Islamic Centre, Masjid Agung Al- Muttaqin,Cakranegara Lombok NTB, Imam Besar dan Khatib di Masjid Agung Al-Muttaqin Cakranegara, Lombok     NTB, Imam Shalat Tarawih, Imam Shalat Idul Fitri,  Masjid Agung, Jakarta, Pengajar di Pesantren Tahfidz Al- Qur’an Al- Asykar Puncak Jawa Barat, Muballigh Majelis Taklim di Jakarta dan sekitarnya, Menjadi Juri di acara Hafiz, RCTI, Pengisi Acara Damai Indonesiaku TvOne.

       Kerendahan hati dan kelemah lembutan serta tutur penyampaian ceramahnya lah sehingga membuat beliau sangat berkesan dihati Masyarakat Muslim Indonesia pada khususnya. Dalam beberapa ceramah, beliau selalu mengingatkan untuk menjaga lisan untuk tidak berucap dan tangan kita untuk tidak menuliskan sesuatu hal yang akan menghasilkan sebuah dosa jariyah. Yaitu mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya dikeluarkan seperti menggosipi teman, menjudge sebuah kelompok , menuliskan hal-hal yang tidak sesuai dengan fakta atau kejadian nyata.

       Beberapa ungkapan dari beliau juga menjadi sebuah slogan untuk pemuda-pemudi Islam Indonesia, salah satunya kata-kata beliau yang menjadi pegangan blgisnur (seorang muslimah yang mengidolakan sosok beliau). “Sepanjang apapun kegelapan, kezaliman, keadilan, insya Allah akan ada suatu saat terbitnya keadilan di Indonesia bersama Al Qur’an”

     Sifat Pemaaf beliau juga sangat menjadi perhatian dan patut tuk dijadikan teladan. Dalam Kondisi terluka pada saat beliau mengalami tragedi penusukan. Beliaulah yang meminta maaf kepada pelaku penusukan karena tidak bisa menghentikan masa untuk menghakimi si pelaku. Sungguh Sosok yang sangat patut untuk dijadikan contoh masyarakat Indonesia pada umumnya.

   Namun Kehendak Allah berkata lain, kita tidak bisa menyaksikan ceramah-ceramah beliau lagi secara langsung, karena telah Allah panggil pulang seorang ulama yang sangat memiliki tempat istimewa dihati Umat Muslim Indonesia. Tepat pada 14 Januari 2021 beliau tutup usia. Dido’akan Syahid Oleh Ustadz Yusuf Mansur yang sambil menahan tangis pada saat mengumumkan kematian beliau melalui akun Instagramnya.

    Tetapi ada satu hal yang perlu kita tanamkan bahwasanya, apa yang kemudian pernah beliau ucapkan sebagai nasehat untuk kita, haruslah kita ikuti. Beliau juga adalah salah seorang pelopor perjuangan melawan Covid 19 , terbukti melalui akun Instagramnya @syekh.alijaber beliau membuat video yang menghimbau dan menegaskan kepada seluruh Masyarakat Indonesia mematuhi Protokol Kesehatan Covid 19.

     Raga boleh ditelan bumi namun nasehat syekh Ali Jaber harus tetap dihati dan ditaati.

Author : Jhyza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *