BELAJAR DARI PENANGKAPAN USTADZ MAHEER

Pelaku ujaran kebencian bukan hanya dari golongan orang-orang yang bisa dikatakan tidak terpelajar tapi bisa juga datang dari orang-orang yang bahkan dianggap sebagai panutan.

Bagaimana tidak awal bulan Desember yang lalu, media sosial dikejutkan dengan penangkapan Ustads Maheer akibat ujaran kebencian yang dilakukannya di media sosial.

Melalui cuitan di akun Twitter pribadinya, terlihat konten tersebut mengarah ke ujaran kebencian terhadap Nikita Mirzani hingga Habib Luthfi Yahya.

Ustadz Maheer resmi ditangkap oleh polisi di rumahnya pada Kamis (03/12/2020), pukul 04.00 WIB

Atas perbuatannya, Ustaz Maher dengan Pasal 45a ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) UU No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang informasi dan Transaksi Elektronik.

Dari kasus tersebut kita dapat belajar bahwa pelaku ujaran kebencian bukan tidak mungkin datang dari orang-orang yang kita anggap sebagai panutan.

Maka dari itu, kita harus pintar-pintar menyaring hal-hal yang baik dari berbagai orang bahkan dari orang yang kita anggap baik sekalipun

Tak hanya itu, kita juga belajar bahwa ujaran kebencian bukan lagi hal sepele tetapi sesuatu yang bisa membuat kita mendekam di jeruji besi bagi siapa pelakunya. Tidak mengenal orang tersebut disegani ataupun di sanjungi tetap hukum harus ditegakkan.

Intinya, jangan sampai orang terdekat atau bahkan kita menjadi pelaku ujaran kebencian karena akibatnya sangat tidak baik.

Kalau bukan kita, siapa lagi? Ayo berhenti menyebar narasi-narasi kebencian dan ingatkan orang-orang terdekat supaya berhenti melakukan ujaran kebencian baik itu di dunia nyata atau pun di dunia maya.

Penulis:Bryan Korua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *