Peran Ibu Melindungi Keluarga dari Radikalisme

Belum lama ini Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah mengeluarkan hasil survei nasional tentang potensi radikalisme tahun ini. Hasil survei diumumkan di sela penutupan Rakornas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di Nusa Dua, Bali, Rabu (16/12/2020) malam.

Melalui hasil survei tersebut ditemukan bahwa indeks potensi radikalisme mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya, sedangkan potensi radikalisme cenderung lebih tinggi di kalangan generasi muda.

Generasi muda masih menjadi generasi yang rentan terpapar radikalisme karena meningkatnya penggunaan internet selama pandemi dan masih kurangnya pemahaman untuk menggunakan internet dengan cerdas.

Selain itu, hasil survei nasional BNPT ini juga menemukan bahwa perempuan memiliki potensi radikalisme lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Perempuan memiliki potensi sebesar 12,3%, sedangkan laki-laki 12,1%.

Mengingat pentingnya peranan perempuan, khususnya seorang ibu dalam menangkal radikalisme pada keluarga dan anak sebagai generasi muda, tentu hal ini perlu menjadi perhatian.

Dilansir melalui laman Sindo News, hal ini pernah ditegaskan oleh Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mayor Jenderal TNI Hendri Paruhuman Lubis dalam kegiatan yang bertema Perempuan Agen Perdamaian: Pelibatan Perempuan Dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme yang digelar BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pada tahun 2019. 

Ia menyatakan bahwa peran ibu dinilai sangat penting dalam keluarga, kaum ibu berperan penting dalam membentengi keluarga dari penyebaran radikalisme dan terorisme.

Ketika penyebaran radikalisme dan terorisme mulai kuat dalam melibatkan anak – anak muda, disinilah peran penting seorang ibu agar kuat untuk mengetahui serta melindungi anak dari paparan pemahaman yang berbahaya. Ibu sebagai orang tua perlu menjadi benteng utama dan kontrol terhadap apa saja yang dipelajari anak.

Dengan melindungi ibu dari paparan radikalisme, dapat membantu radikalisme sulit untuk masuk dalam ranah keluarga, khususnya pada anak. Dengan memberikan pemahaman yang benar mengenai bahaya radikalisme pada ibu, dapat membantu penyebaran radikalisme sulit berkembang di lingkungan keluarga.

Perempuan khususnya seorang ibu dapat berkontribusi secara aktif dalam menangkal dan meluruskan pemahaman yang keliru di keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Sambil merayakan peringatan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember, mari kita rayakan juga peranan besar seorang ibu dalam melindungi keluarganya dari bahaya menangkal radikalisme dan terorisme.

Selamat Hari Ibu!

Penulis: Bunga Revina Palit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *