PILKADA DAMAI DAN AMAN DI TENGAH PANDEMI VIRUS CORONA

Penyelenggaraan Pilkada Serentak 2020 kini tinggal menghitung hari. Tepat pada 9 Desember 2020 Bangsa Indonesia akan kembali melakoni hajatan politik lima tahunan. Pemungutan suara serentak ini akan berlangsung di beberapa wilayah di Indonesia salah satunya Provinsi Sulawesi Utara. 

Persiapan demi persiapan dilakukan, mulai dari KPU beserta jajarannya sampai pada tim sukses dari masing-masing calon berbondong-bondong untuk memenangkan Pilkada kali ini.

Meski begitu, ada sedikit perbedaan pada pelaksanaan Pilkada tahun ini yaitu karena Pilkada tahun ini berlangsung di tengah pandemi virus corona. Dengan demikian tantangan Pilkada 2020 bertambah.

Dalam penyelenggaran Pilkada nanti masyarakat diharapkan tetap memberikan hak suaranya untuk masa depan bangsa Lima tahun kedepan dengan memperhatikan protokol kesehatan agar terhindar dari virus corona.

Masyarakat tak perlu khawatir karena KPU telah mengantisipasi dengan menerbitkan Peraturan KPU Nomor 6 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota Serentak Lanjutan dalam Kondisi Bencana nonalam Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), yang diubah beberapa kali, terakhir dengan PKPU Nomor 13 Tahun 2020. 

Dalam Pasal 5 PKPU Nomor 6 Tahun 2020 disebutkan, “Pemilihan Serentak Lanjutan dilaksanakan dengan protokol kesehatan pencegahan dan pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan penyelenggara Pemilihan, peserta Pemilihan, Pemilih, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Pemilihan”.

Dikutip dari tirto.id berikut tata cara mencoblos di TPS pada Pilkada 2020 agar terhindar dari penyebaran virus corona:

“Pertama, pemilih mempersiapkan alat dan barang yang dibawa ke TPS. Untuk pemilih yang tercantum dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap, yang dibawa adalah Surat Pemberitahuan Pemungutan Suara kepada Pemilih. Untuk pemilih yang tercantum dalam DPPh (Daftar Pemilih Pindahan), yang dibawa adalah KTP-el/Surat Keterangan dan formulir Model A5. Untuk pemilih yang sudah memenuhi syarat (sudah 17 tahun atau sudah menikah), tetapi tidak tercantum dalam DPT, yang dibawa adalah KTP-el atau Surat Keterangan. Ia akan masuk ke dalam Daftar Pemilih Tambahan (DPTb). Pemilih ini datang pada pukul 12.00 hingga 13.00 WIB. Selain itu, pemilih hendaknya membawa pulpen sendiri untuk tanda tangan dalam daftar hadir yang disediakan KPPS. Memang, KPPS menyediakan pulpen untuk tanda tangan. Namun, mengingat ada potensi penularan COVID-19 jika pulpen dipakai bergantian, maka membawa pulpen pribadi dapat jadi solusi. 

Kedua, pemilih datang di TPS sesuai dengan jam yang dicantumkan dalam Surat Pemberitahuan Pemungutan Suara kepada Pemilih. Berbeda dengan pemilihan umum terdahulu, ketika pemilih dapat datang kapan saja ke TPS pada adalah waktu pemungutan suara (pukul 07.00 WIB/WITA/WIT hingga 13.00 WIB/WITA/WIT), kali ini pemilih hadir menyesuaikan dengan waktu kehadiran pemilih yang tercantum dalam surat pemberitahuan. Kepatuhan pemilih terhadap waktu kehadiran pemilih ini penting karena dalam sebuah TPS maksimal terdapat 500 pemilih. Untuk mencegah kerumunan yang akan berpotensi menjadi tempat penularan COVID-19, waktu kehadiran 500 pemilih itu diatur dan dibagi oleh KPPS. Misalnya, pemilih urutan 1 hingga 50 datang pukul 07.00 WIB hingga 07.59 WIB, sedangkan pemilih urutan 51 hingga 100 pada pukul 08.01 WIB hingga 09.00 WIB. Kedua, ketika datang ke TPS, jika terjadi antrean, pemilih antre dengan memperhatikan jarak aman (1 meter). 

Ketiga, sebelum memasuki TPS, pemilih akan diimbau oleh petugas ketertiban (linmas) untuk mencuci tangan. Pemilih yang tidak memakai masker akan diberi masker sekali pakai. Namun, lebih baik jika pemilih membawa masker sendiri, mematuhi protokol kesehatan 3M. 

Keempat, setelah cuci tangan, pemilih akan dicek suhu badannya terlebih dahulu oleh petugas ketertiban (linmas) dengan thermogun. Jika suhu badan pemilih melebihi 37,3 derajat Celcius, maka pemilih tersebut dipersilakan untuk istirahat beberapa waktu, selanjutnya dicek kembali. Jika suhu badan tetap tinggi, maka pemilih dipersilakan untuk menggunakan bilik pemilihan khusus, yang letaknya di luar TPS. Jika subu badan pemilih di bawah 37,3 derajat Celcius, ia dapat masuk ke TPS dan menyerahkan surat menunjukkan Surat Pemberitahuan serta KTP-el kepada KPPS-4 dan mengisi formulir daftar hadir. Pemilih kemudian mendapatkan sarung tangan plastik dari Petugas KPPS-4. 

Kelima, pemilih menggunakan sarung tangan dan menunggu giliran dipanggil dengan duduk di kursi yang disediakan sembari tetap menjaga jarak. Dalam TPS dengan ukuran 8 x 10 meter, hanya disediakan maksimal 9 kursi. 

Keenam, pemilih mengambil surat suara setelah dipanggil namanya oleh Ketua KPPS. Pemilih kemudian memeriksa kondisi surat suara, apakah rusak atau tidak, sebelum ke bilik suara. 

Ketujuh, pemilih menggunakan hak pilih dengan cara mencoblos pakai alat coblos yang disediakan (paku) sekali pada kolom yang berisi nomor urut, pas foto, dan nama pasangan calon. 

Kedelapan, pemilih memasukkan surat suara ke dalam kotak dengan dipandu oleh KPPS 6. 

Kesembilan, pemilih membuka sarung tangan, membuangnya ke tempat sampah yang disediakan di dekat KPPS 7. 

Kesepuluh, pemilih ditandai dengan cara jarinya (pada bagian kuku) ditetesi tinta oleh KPPS 7. Dengan jalan ini, pemilih sudah sah memilih dan tidak diperkenankan memilih lagi di TPS lain. 

Kesebelas, pemilih wajib cuci tangan di tempat yang disediakan, yang terletak di luar pintu keluar TPS. 

Keduabelas, pemilih yang sudah selesai menggunakan hak pilih diimbau segera meninggalkan TPS dan tidak berkerumun di area TPS. Untuk menghadapi pandemi COVID-19, pemerintah dan masyarakat mesti bersinergi. Pemerintah berjuang dengan menerapkan 3T (testing, tracing, dan treatment). Testing adalah pemeriksaan dini agar orang yang terkonfirmasi COVID-19 memperoleh perawatan secepat mungkin. Tracing atau pelacakan kontak dilakukan terhadap kontak-kontak terdekat pasien positif COVID-19. 

Terakhir, treatment atau perawatan dilakukan jika seseorang positif COVID-19, baik yang dengan gejala maupun tidak bergejala.”

Demikian tata cara mencoblos di TPS 9 Desember 2020 nanti. Diharapkan masyarakat tak perlu khawatir dan tetap memberikan hak pilih dengan memperhatikan 3M yaitu: Memakai Masker, Mencuci Tangan di Air Mengalir dengan Sabun Selama 20 Detik, dan Menjaga Jarak.

Selain itu, yang perlu diantisipasi ketika berbicara mengenai tantangan Pilkada adalah rusaknya kebersamaan dalam bermasyarakat. 

Kita tahu bersama, setiap pelaksanaan Pilkada wajar jika masing-masing orang memiliki pilihannya sendiri tapi jangan sampai kita terpecah bela 

Apalagi di era digital, banyak masyarakat saling menghina hanya karena berbeda pilihan, menolak lupa ketika Pilpres 2019 lalu, saling hujat yang begitu hebat terjadi di media sosial padahal kedua pasangan calon hubungan mereka cukup baik bahkan salah satu calon terpilih sebagai menteri dengan kata lain sama-sama berjuang untuk satu tujuan yaitu kepentingan Bangsa Indonesia alhasil bukan keuntungan yang didapat malah kesatuan antar bermasyarakat hilang bahkan kita membuang buang waktu yang berharga dalam hidup kita hanya untuk menghujat orang yang berbeda pilihan dengan kita.

Padahal, negara demokrasi  memang perlu adanya perbedaan, namun perbedaan yang ada bukan untuk melahirkan perpeahan melainkan dari perbedaanlah akan nada titik temu untuk suatu kepentingan bersama

Belajar dari hal tersebut, mari sama-sama kita sukseskan Pilkada 2020 dengan memperhatikan protokol kesehatan dan tata cara pencoblosan yang telah diatur oleh KPU dan tetap menjaga kerukunan dalam perbedaan pilihan. Wujudkan Pilkada 2020 yang damai dan aman dari penyebaran virus corona.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *