Nasionalisme Arnold Mononutu, Pahlawan Nasional Asal Sulut Yang Ke-10

Dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional RI, Nama Arnold Mononutu tentu bukan sebatas tokoh biasa. Namanya diabadikan sebagai salah satu Nama Ruas Jalan yang ada di kota Manado, bukti bahwa Ia adalah Tokoh yang disegani dan sangat Berpengaruh. Arnold Mononutu telah terlibat aktifdalam dunia pergerakan nasional dengan misi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Tokoh Kelahiran Manado, 4 Desember 1896 ini merupakan Mantan Mentri era Soekarno, tapi perjuangan dan pengabdiannya bagi Indonesia sudah dimulai bahkan sebelum Indonesia merdeka.

Salah satunya tercatat dalam Memoar Bung Hata “Untuk Negeriku:Sebuah Otobiografi”, Saat mengenyam pendidikan di Belanda tahun 1920an,  Arnold menjadi bagian dari organisasi pelajar Indonesia yaitu Indonesische Vereeniging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia dan menjadikannya organisasi yang progresif dan antikolonial.

Dalam organisasi itulah Arnold banyak tertanam benih-benih Nasionalisme dan wawasan kebangsaan Indonesia yang lebih luas. terpilih sebagai wakil ketua pada periode yang sama di mana Mohammad Hatta adalah bendaharanya. 

Ketrlibatanya dalam Perhimpunan Indonesia, membuat ia tidak mendapat pembiayaan dari Ayahnya atas ancaman dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada waktu itu, Sehingga Ia mengalami masa sulit, meski begitu, Rasa Nasionalisme tidak luntur dari Arnold dan Anggota Perhimpunan Indonesia yang lain.

“kekejaman pemerintah kolonial itu hanya memperkuat solidaritas rasa kesetiakawanan dan rasa kesetiabangsaan antara anggota-anggota Perhimpunan Indonesia.” Tulis Bung Hatta pada Otobiografinya.

Saat Mononutu menjadi utusan Perhimpunan Indonesia dalam membangun hubungan dengan organisasi mahasiswa Asia. Dengan cepat ia membangun hubungan dengan pemuda-pemuda India dan China. Hingga akhirnya terbentuk organisasi Persekutuan untuk Pengkajian Peradaban-peradaban Timur. Dari usahanya itu, Perhimpunan Indonesia membuka jalan untuk kemudian melaksaakan propaganda politik untuk meminta dukungan pihak lain agar mendukung upaya kemerdekaan bangsa Indonesia.

Perjuangan serta Nasionalisme dari Arnold Mononutu juga nampak setelah Indonesia Merdeka. Mononutu berperan penting dalan menyatukan Federalis bentukan Belanda yaitu Negara Indonesia Timur (NIT) dengan Republik Indonesia. 

Mononutu menjadi salah satu pendiri organisasi politik bernama Persatuan Indonesia. Sebuah koran bernama Menara Merdeka diterbitkan untuk mempromosikan cita-cita Persatuan Indonesia. Koran ini memberikan pesan-pesan pro-republik dan mengkritik upaya-upaya Belanda untuk membentuk sebuah negara yang terpisah dari Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan.

Keempat, saat Mononutu sebagai perwakilan PNI dalam sebuah sidang konstituante mempertahankan Pancasila, khususnya sila pertama. Sikap ini tidak semata-mata membebaskan konstitusi dari sekularisme dan fanatisme. Tetapi lebih dari itu sikap Mononutu mau menegaskan semangat satu dalam keberagaman yang juga menjadi sikap dan praktik yang ia dan teman-temannya hidupi saat perjuangannya di Belanda dalam Perhimpunan Indonesia. Hal ini menjadi penting untuk memberi dasar kepada sebuah negara yang baru bertumbuh untuk memelihara dan mengayomi hak-hak setiap anggota masyarakatnya. Sampai disini Mononutu masih setia pada arah perjuangannya untuk seluruh bangsa Indonesia tanpa tebang pilih suku, agama, ras dan golongan. Akhirnya memang ketokohan seorang Mononutu di kalangan masyarakat Minahasa maupun Indonesia telah meninggalkan serpihan-serpihan sejarah istimewa yang patut diangkat dan diwarisi. Semangat perjuangan dan kesetiaannya pada garis perjuangan kebangsaan adalah bentuk nyata kepahlawanannya. Saat ini, ketika masyarakat lebih suka mengorbankan kepentinga bangsa demi

Pengabdian Arnold Mononutu terhadap Republik Indonesia berlanjut ketika Ia menjadi pejabat publik sebagai Mentri Penerangan. Mononutu bahkan yang yang pertama kali mengumumkan nama Batavia menjadi Jakarta, Seperti dikutip dari Kepustakaan Presiden, pengukuhan nama Jakarta baru dilakukan pada 30 Desember 1949 oleh Menteri Peneranga sesudah berlangsungnya Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *