Awas!! Virus radikalisme menyerang imunitas sosial yang lemah

Tak hanya Covid-19, virus radikalisme juga tengah mewabah. Seperti halnya virus covid-19, jika tak ditangani akan berakibat fatal, begitu pula virus radikalisme. disadari atau tidak, Virus ini semakin pesat menjangkiti dunia nyata maupun dunia maya. Bedanya, Jika Covid-19 menyerang tubuh manusia di area sistem pernafasan, virus radikalisme menyerang pikiran manusia. Dalam sebuah pernyataan, Kepala BNPT Komjen. Pol. Boy Rafli Amar membandingkan virus radikalisme dengan virus Corona. “Virus radikalisme menyerang alam pikiran, virus ini dapat merusak alam pikiran seseorang, dan ini harus kita jaga.” Ungkapnya.

Untuk terus menangkal ancaman masuknya virus radikalisme ini, diperlukan kekebalan akan imunitas sosial yang kuat. Apalagi ditengah pandemi covid-19 yang semua aspek peradaban Manusia ikut terganggu. Hal ini menyebabkan masyarakat merasa frustasi, bosan, juga kepanikan sosial dan ekonomi bisa memprovokasi pandangan ekslusif dan radikal, yang kemudian dapat meradikalisasi masyarakat.

Virus-virus radikalisme secara diam-diam memasuki keberlangsungan kehidupan masyarakat. Banyaknya Isu sara, Hoax dan sentimen agama yang memantik sikap intoleransi serta munculnya suatu ajaran, pemikiran yang menyimpang dari paham yang sebenarnya, inilah bibit dari paham radikal yang bisa berujung pada aksi terorisme.

Masyarakat wajib waspada, jangan terlena dengan hal-hal yang salah dan akan merugikan diri sendiri bahkan Bangsa dan Negara nantinya. Karena kita tak akan pernah tau kapan dan dimana aksi terorisme akan terjadi.

Oleh sebab itu diperlukan antisipasi serta perlawanan-perlawanan terhadap virus radikalisme ini. dimulai dari tindakan sederhana di media sosial seperti membagikan setiap berita yang valid dan mereport berita hoax, aktif mengkumandangkan perdamaian ditengah perbedaan yang ada. BNPT juga dalam mengatisipasi paham radikalisme masuk dalam masyarakat, menyatakan melibatkan para tokoh-tokoh agama dan ulama dalam upaya pencegahan radikalisme, mereka hadir sebagai penangkal pemikiran/ paham radikalisme yang mengatasnamkan agama, agar pemikiran yang mengarah kesana ke hal yang salah dapat segera diluruskan.

Penulis : Claudia Selan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *