Stop Kabar (Membuat Panik) di WhatsApp!

Tak dapat dimungkiri, status pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) perlu mendapat perhatian serius dari seluruh warga dunia. Namun demikian, media distancing degan maksud membatasi penyebaran informasi negatif dan tidak produktif juga perlu ditingkatkan. Jika tidak, “panik” justru menjadi masalah ikutan yang cukup serius di kalangan masyarakat.

WhatsApp (WA) merupakan media sosial (medsos) yang dimiliki oleh hampir seluruh masyarakat. Siapapun dapat memproduksi sekaligus menyebarkan informasi tanpa adanya filter yang ketat. Berita hoaks, pendapat pribadi yang belum jelas kebenarannya, bahkan umpatan kepada orang lain pun sering kali berseliweran di media ini. Medsos WA seakan menjadi lisan yang dapat digunakan dengan mudah berikut dampak ikutan positif dan negatif. Lisan bisa dengan spontan mengeluarkan kata-kata.

Terkait dengan status pandemi covid-19, WA menjadi salah satu medsos yang massif digunakan masyarakat dalam menyebarkan informasi. Dalam satu hari, seorang pengguna WA bisa membuat sekaligus menyebarkan puluhan atau bahkan ratusan konten informasi terkait covid-19.

Informasi ini bisa lewat story dan group WA. Sehingga, jika seseorang saling menyimpan kontak WA teman sebanyak 100 orang saja, dan rata-rata setiap orang membuat 3 story WA terkait covid-19, maka ia akan mendapatkan 300 story WA dalam sehari. Padahal, rata-rata pengguna WA menyimpan lebih dari 100 kontak teman dan setiap pengguna WA sering kali membuat story covid-19 lebih dari 3 kali. Belum lagi dalam group (WhatsApp Group/WAG), sering kali ada satu anggota menyebarkan satu informasi covid-19 langsung dibahas oleh anggota yang lain sampai puluhan komentar.

Kondisi betapa seringnya masyarakat mendapatkan informasi terkait covid-19 tidak selamanya menyehatkan jiwa. Bagi masyarakat yang memiliki kedewasaan (baca: bukan hanya kepandaian intelektual) dalam menyikapi informasi yang ada, tentu mereka akan baik-baik saja. Justru mereka bisa menambah wawasan terkait tema yang sedang berkembang. Mereka bisa menyerap semua informasi dengan baik dan memilah serta memilih untuk dijadikan panduan kebijakan laku hidup. Namun, kelompok masyarakat yang bisa dewasa menerima informasi ini jumlahnya tidak lebih banyak dibandingkan dengan yang mudah shock dengan adanya informasi baru yang bertubi-tubi.

Kelompok masyarakat yang mudah shock dengan informasi baru memiliki tingkat kerentanan penurunan imunitas tubuh lebih tinggi dibandingkan dengan yang memiliki sifat dewasa. Apalagi orang yang mudah shock tersebut memiliki minat membaca rendah, mereka akan dengan mudah menyimpulkan sesuatu dari hanya membaca sekilas informasi yang didapatkan. Padahal, kesimpulan tergesa-gesa tersebut sering kali luput dari yang diharapkan.

Berdasarkan perspektif teori motivasi dalam psikologi positif, readiness merupakan kematangan untuk menerima dan dan mempraktikkan tingkah laku tertentu.. Jika individu siap berinteraksi dengan media, maka ia akan memiliki perilaku yang adaptif, semisal kemampuan memilih pesan. Individu tidak langsung percaya terhadap kabar buruk. Ia fokus dengan kabar baik sebagai cara untuk mempertahankan kesehatan mental. Sebaliknya, ketidaksiapan berinteraksi dengan media menyebabkan seseorang ‘auto panic’ sehingga justru mendapat kerugia berupa kecemasa yang selalu bertambah manakala mengakses informasi dari WA.

Ketika masyarakat mendengar kata covid-19, dalam benak mereka adalah “penyakit yang maha dahsyat”. Dan, ketika mereka mendapatkan informasi terkait covid-19 secara bertubi-tubi, apalagi sampai ikut terlibat dalam penyebaran informasi, maka secara tidak sadar mereka telah memupuk pemahaman akan ketakutan terhadap covid-19. Padahal, masyarakat sebenarnya tidak perlu takut, namun justru menghadapi dengan bijak.

Bermula dari sinilah, media distancing terkait covid-19 via WA sudah saatnya dilakukan. Masyarakat mesti sadar bahwa tidak semua yang diketahui harus diinformasikan kepada publik. Justru, mereka harus mengetahui sesuatu yang diinformasikan kepada publik. Terkait penggunaan medsos WA tentang covid-19, para pengguna mesti menyampaikan informasi yang jelas memberikan manfaat kepada publik. Penyebar informasi mesti sadar bahwa tidak semua pengguna WA adalah akademisi ataupun peneliti. Justru rata-rata mereka adalah orang awam yang nyaman menyerap informasi hanya dengan satu atau dua frasa, semisal meme. Maka, stop penyebaran informasi covid-19 WA yang berpotensi pada kepanikan publik. Siarkan informasi yang jelas mencerahkan saja.

Artikel ini sudah tayang di laman jalandamai.org dengan judul “Stop Kabar (Membuat Panik) di WhatsApp!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *