Peranan Pers sebagai Literasi Digital

Penyebaran informasi melalui media massa saat ini sudah sangat mudah untuk dijangkau. Masyarakat tidak perlu ribet untuk mengakses berita terbaru setiap harinya. Cukup melalui ponsel pintar saja kita dapat selalu kebanjiran informasi.

Bahkan, kalau kamu malas mencarinya, biasanya dia bisa datang sendirinya! Bisa melalui notifikasi yang entah datang dari aplikasi yang mana, grup Whatsapp, atau bisa jadi melalui laman media sosialmu.

Kebanjiran informasi ini menjadikan kita perlu untuk cek dan ricek lebih dalam mengenai informasi yang kita terima. Jangan sampai langsung sharing tanpa saring begitu saja.

Tetapi, bagaimana fenomenanya di masyarakat kita?

Menurut Survei CIGI-Ipsos 2016, sebanyak 65 persen dari 132 juta pengguna internet di Indonesia percaya dengan kebenaran informasi di dunia maya tanpa cek dan ricek lebih dulu. Hal ini menyebabkan penyebaran konten negatif seperti ujaran kebencian, berita bohong, radikalisme dan terorisme menjadi mudah tersebar dan mempengaruhi pengirim dan penerimanya.

Disini mulai terlihat bahwa perkembangan media sosial saat ini tidak hanya sebagai media untuk saling berinteraksi, tapi juga dijadikan alternatif untuk mendapatkan informasi. Permasalahannya, apakah informasi yang diberikan telah teruji kebenarannya?

Media sosial saat ini seringkali digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan informasi hoaks, ujaran kebencian, hingga propaganda radikalisme dan terorisme. Dengan keadaan masyarakat yang masih minim akan literasi, hal ini menjadi sangat mengkhawatirkan.

Pada titik inilah seharusnya pers mampu menjadi acuan untuk masyarakat dalam menerima informasi yang valid. Pers harus mampu memberikan informasi yang terpecaya dan bertanggung jawab.

Dengan munculnya berbagai media abal-abal yang seolah-olah berperan jurnalistik, tentu menjadi suatu tantangan besar bagi dunia pers di dunia digital saat ini. Tantangan ini perlu disikapi dengan bijak, bagaimana media mainstream dapat mempertahankan kredibilitasnya dalam memberikan informasi tanpa terpengaruh dengan maraknya disinformasi yang beredar di masyarakat.

Ketika masyarakat banyak menerima informasi melalui media sosial, yang dimana informasi tersebut dapat ditulis oleh siapa saja, media mainstream perlu menjadi acuan klarifikasi bagi masyarakat. Pers harus mampu menjadi sandaran bagi masyarakat dalam menumbuhkan budaya literasi digital saat ini. Melalui literasi digital, kita dapat mendorong agar masyarakat membiasakan cek dan ricek segala informasi.

Saat banyaknya ketidakpastian pada kebenaran informasi yang bertebaran, masyarakat juga perlu berperan aktif dalam membangun membangun budaya literasi dan melaporkan informasi yang tidak benar.

Selamat Hari Pers Nasional!
Harapannya, semoga kita mampu menjadikan media mainstream sebagai tempat untuk klarifikasi sekaligus literasi untuk masyarakat.

Penulis: Bunga Revina Palit

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *