Guru Bangsa yang Dikerdilkan

Kemerdekaan bangsa ini memang tidak terlepas dari pergerakan tokoh-tokoh agama di belakangnya. Dari saudara-saudara kita yang beragama Islam misalnya, orang-orang yang hidup di zaman perjuangan kemerdekan tentu akrab dengan fatwa jihad yang kemudian dikenal resolusi jihad melawan penjajah Belanda pada 22 Oktober 1945 yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asyari. Fatwa tersebutlah yang memicu pergerakan rakyat yang berujung dengan pecahnya perang di Surabaya pada 10 November 1954.
Tak berhenti sampai disitu saja peran tokoh agama dalam kemrdekaan juga datang dari saudara-saudara kita yang beragama Katolik. Hal ini dibuktikan dengan ujaran yang begitu populer dari Albertus Soegiopranoto orang Indonesia pertama yang menjadi Uskup. Ujaran yang selalu beliau kumandangkan yaitu “100% Katolik 100% Indonesia”. Dia juga terlibat langsung dalam proses perdamaian pertempuran lima hari di Semarang.
Dalam konteks bernegara di Negara yang plural dan multikultural ini kita sudah sangat akrab dengan KH. Abdurahman Wahid, presiden ke-4 Indonesia sekaligus juga bapak pluralisme bangsa ini. Beliau perna berujar “tidak penting apa pun agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan yang baik untuk semua orang. Orang tidak akan perna bertanya apa agamamu”. Sebuah ungkapan yang tentunya memiliki begitu banyak nilai persatuan didalamnya.
Dari hal-hal seperti di atas tentunya kita dapat melihat tokoh-tokoh agama tidak hanya mengajari sesuatu yang berbau keagaman tetapi juga nilai-nilai kebangsaan. Sehingga tidaklah salah jika kita menyebut tokoh-tokoh agama sebagai guru bangsa dan perekat persatuan. Dengan hal inilah para tokoh-tokoh agama seharusnya dihormati.
Akan tetapi dewasa ini kita dapat melihat saling benci dan perpecahan di bangsa ini semakin memprihatinkan. Seolah kita telah melupakan nilai-nilai persatuan dan kebangsaan yang di ajarkan oleh para tokoh-tokoh agama. Hal ini tanpa kita sadari adalah satu bentuk penghinaan dan ketidak hormatan kita pada para tokoh agama.
Tanpa kita sadari juga hal ini merupakan sesuatu yang telah ditunggu-tunggu oleh kelompok-kelompok tertentu untuk mengkerdilkan peran tokoh agama di tengah masyarakat. Kita digiring untuk melihat bahwa ada tokoh agama yang lebih menonjol dari yang lain. Bahkan kita seolah-olah dibuat mencari tokoh-tokoh agama yang paling benar, sehingga melihat yang lainnya salah. Sadarkah kita bahwa ini bagian dari perpecahan, dimana kita akan mengganggap pengikut dari tokoh agama yang tidak kita ikuti berbeda dengan kita. Akhirnya hal inilah yang dapat dimanfaatkan untuk memecah belah kita.
Peran tokoh agama yang dulunya memberi nilai-nilai persatuan dan kebangsaan justru hilang karena fanatisme membabibuta para pengikutunya yang tidak menghormati tokoh-tokoh agama lainnya. Sehingga tanpa kita sadari kita sendirilah yang mulai mengkerdilkan peran tokoh agama. Hal ini tentunya tidak bisa kita biarkan lebih jauh. Mulai sekarang hargailah semua tokoh agama yang ada, jangan mudah terprofokasi dengan apa yang kita anggap benar adalah kebenaran mutlak. Kita harus mendengar tokoh-tokoh agama yang lainya juga sehingga memiliki perspektif yang lebih luas lagi.
Sehingga dengan pemikiran terbuka dan ajaran-ajaran tentang nilai-nilai persatuan dan kebangsaan yang diajarkan oleh para tokoh-tokoh agama, kita dapat melihat Indonesia yang lebih kuat dalam persatua. Dimana kita tidak lagi terkotak-kotakan dalam sebuah perbedaan melainkan melebur dalam sebuah keberagaman. Karna bangsa ini merdeka dalam sebuah keberagaman yang dipersatukan dalam Indonesia.

Freedom Rombot

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *